Pertempuran pun berlangsung. Leena mengerahkan jurus bertubi-tubi. Blazing Petal Dance, Flame Mirage Rend, Ashen Lotus Collapse. Dalam waktu singkat, tiga musuhnya roboh satu per satu, terbakar dan terkapar di salju.

Namun…

Satu demi satu, Immortal lain turun tangan. Dua, tiga, lima... hingga enam Immortal mengepung Leena. Mereka mulai menyerang bersamaan, menciptakan badai gabungan api, es, racun, dan bayangan.

Leena mengerahkan semua kekuatannya, namun mulai kelelahan. Tubuhnya tergores, nafasnya berat. Serangan terakhir melesat ke arahnya, sebuah sinar hitam yang akan menembus jantungnya.

Dan tepat saat itulah—

DUAAARR!!

Suasana berubah semakin panas. Aura membubung dari tiap sisi, salju di sekeliling mulai meleleh karena tekanan spiritual yang membara.

Langit bergemuruh.

Pertempuran tak bisa dihindari.


Sinar itu terpental seolah menabrak gunung kuno. Di antara debu salju yang beterbangan, berdiri seorang sosok raksasa bersisik perak keemasan, bermata biru yang berkilat membelah langit. Aura primordial menyelimuti langit dan tanah.

"PLASURA..." salah satu Immortal musuh bergetar ketakutan. "Itu... bentuk sejati... dia bukan manusia biasa!"

Sosok itu adalah Lynx, telah berubah ke bentuk aslinya: Makhluk kuno, Plasura, penguasa ruang dan kekuatan fisik absolut.

"Sudah cukup," ucap Lynx dengan suara bergemuruh. Dalam sekejap, enam Immortal menyerangnya bersama-sama. Mereka menggabungkan semua teknik mereka. Es, bayangan, racun, dan badai spiritual menghantam tubuh Plasura.

Namun... tak satu pun berhasil menembus kulit sisiknya.

Dengan satu ayunan tangan, langit bergoyang. Puluhan Grandmaster terpental. Dengan satu injakan kaki, tanah retak seperti kaca pecah. Dengan satu pukulan ringan ke udara—

KRAAAK!!

Aura gabungan Immortal hancur berkeping-keping. Enam Immortal tersungkur ke tanah, darah keluar dari mulut mereka, ketakutan, dan tak sanggup berdiri lagi.

Melihat ini, sisa pasukan musuh langsung panik.

"Melarikan diri!!" teriak salah satu dari mereka.

Ratusan Master Foundation berhamburan. Grandmaster dan Immortal yang masih hidup menarik tubuh mereka yang terluka dan melesat kabur dari Sekte Pedang Es.

Keheningan melingkupi udara.

Plasura perlahan menyusut, kembali menjadi sosok Lynx yang tenang dan bersahaja, berdiri di samping Leena.

Ketua Sekte Pedang Es yang terluka bangkit dibantu para murid. Dia berlutut satu lutut.

"Atas nama Sekte Pedang Es, kami berterima kasih padamu, Tuan Xiao Ling. Jika bukan karena kalian... kami mungkin sudah binasa hari ini."

Lynx tersenyum tipis. "Bukan saatnya bersujud. Kita masih punya urusan."

Beberapa hari kemudian, rombongan Lynx, Leena, dan para tetua Sekte Pedang Es tiba di lokasi suku Surya.

Namun begitu melihat ribuan orang terbujur lemah, luka parah, dan sekarat, Leluhur Pedang Es tertegun.

"Ini... ini bukan satu orang! Ini ribuan jiwa! Aku tak mungkin membekukan semuanya seorang diri. Teknik itu menguras terlalu banyak energi!"

Lynx melangkah maju. "Ajarkan padaku. Aku akan melakukannya sendiri. Tapi aku butuh teknik itu sekarang."

Leluhur menatapnya dalam diam. Namun setelah melihat wajahnya yang tenang dan aura yang tak bisa dia ukur, dia mengangguk.

"Aku akan ajarkan padamu... Eternal Stasis Casket."

Dalam waktu singkat, Lynx menyerap teknik tersebut dan menggabungkannya dengan energi primordialnya. Dia berdiri di tengah dataran tempat para anggota suku Surya terbaring, lalu menutup mata.

Tangannya terangkat perlahan.

"Frozen Eternity—Seal the Breath of Time."

Sinar putih kebiruan menyebar dari tubuh Lynx. Satu per satu tubuh warga suku Surya mulai dibungkus kristal bening yang bersinar lembut. Tidak membunuh, tidak menyakiti, tapi membekukan waktu mereka. Nafas mereka terhenti, luka mereka membeku di saat terakhir, dan tubuh mereka tetap hidup dalam keadaan seperti tidur abadi.

Dalam waktu satu jam, semua anggota suku Surya telah disegel dalam kubah es kehidupan.

Leluhur Sekte Pedang Es menatap kagum. "Tak kusangka... bahkan aku pun tak sanggup membekukan dalam skala sebesar ini. Kau bukan sekadar kultivator, kau adalah legenda."

Lynx tersenyum. "Sekarang, kalian bisa kembali. Suku ini akan menunggu harapan di masa depan."

Sekte Pedang Es pun kembali ke kuil mereka, meninggalkan Lynx dan Leena di dataran beku, berdiri di antara kristal-kristal kehidupan yang memantulkan cahaya surya… seperti harapan yang membeku, menunggu untuk dibangkitkan kembali.

